Mahasiswa Keluhkan Keberadaan Green Caffe di RKB-I

Foto : Indri K.N

ALIPINEWS - Sabtu (7/9/19) gedung RKB-I telah digunakan untuk KBM. Selain ruang kelas juga terdapat fasilitas tambahan, salah satunya kantin yang diberi nama “Green Caffe”.

Green Caffe (GC) menurut penuturan Insafitri, Wadek II FP, dikelola oleh koperasi Dosen dan Karyawan FP.

“Awalnya 2004 lalu kita buat semacam koperasi, tapi bukan resmi. Awalnya 12 orang anggota, sekarang 35 orang anggotanya. Nah, kemudian kita inisiatif mengembangkan Green Caffe ini” terang Insafitri, yang juga anggota koperasi dan Suplier produk di GC.

Ia mengatakan, GC dimanfaatkan untuk mengaktifkan kembali koperasi tersebut, yang sebelumnya pernah mandek.

Mengenai biaya pengelolaan, Insafitri mengaku didapatkan dari kas hasil iuran dan keuntungan dari penjualan juga dikelola koperasi tersebut.

Menanggapi hadirnya GC, beberapa keluhan disampaikan mahasiswa.

Erika, mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan mengaku harga jajanan di GC terlalu mahal.

“Jajanannya terlalu mahal dibandingkan dengan kantin RKB-B dan kantin lainnya,” Kata Erika. Dia juga mengeluhkan tentang pelayanan yang kurang cekatan.

Sementara itu, Kiki, mahasiswa Ilmu Kelautan, menilai penempatan kantin kurang strategis.

“Kalau sedang ramai pembeli dapat mengganggu mahasiswa yang turun dari lantai dua,” terang Kiki.

Nike, mahasiswa Agroteknologi, dia mengaku kecewa karena ditolak saat akan menitipkan dagangannya.

“Padahal tersedianya kantin di RKB-I membuka peluang mahasiswa belajar berwirausaha,” pungkas Nike.

Menanggapi keluhan tersebut, Insafitri menerangkan bahwa GC tidak ada sangkut-pautnya dengan pihak Fakultas. Sehingga, terkait penetapan harga, penerimaan Suplier, dan pengelolaan di pegang sepenuhnya oleh pengelola, dalam hal ini Koperasi Karyawan dan Dosen FP.

“Mahasiswa boleh menitipkan produknya di kantin, namun yang didahulukan dari jajaran para dosen dan karyawan.”

“Intinya dari kita, untuk kita,” pungkasnya. (Ags/Rai/Mel)

Share:

Jejak Hitam II


Lanjutan...


Sumber : weheartit.com

Saat itu aku tersadar. Kudengar suara menggali tanah di halaman belakang rumah. Seakan lupa dengan insiden berdarah, aku tak menghiraukan suara galian.

Di sudut kamar kulihat Adinda sedang duduk namun kedaannya tak sadarkan diri. Kaki dan tangannya diikat kuat dan mulutnya dibekap plaster hitam.
​"Dinda, bangun sayang. Ini kakak." Aku merengek memeluk adikku. Kugoyang-goyangkan tubuh mungilnya dengan kuat, berharap Adinda segera terbangun.
Nihil, Adinda tetap tenang dengan posisi duduknya. Kuamati kelopak matanya yang mengantup itu terasa cekung dan hitam. Tak kudengar hembusan napasnya. Plaster yang melilit wajah mungil Adinda menutupi saluran pernapasannya. Aku hanya mematung bersandar di kursi tempat adikku menjemput ajal.

​Usiaku saat itu masih 12 tahun. "Dea Oxalis kini hanya hidup sebatang kara." Tangisku dalam hati. Kuciumi adikku yang malang ini. Sejenak kuusap deraian air mata. Aku bangkit dan berjalan mengendap-endap melihat apa yang terjadi di halaman belakang.
​"Mas, mayat ini sangat berat, perutku sakit tak kuat menarik mayat ini lagi." Sumarni menyeret tubuh Ibu dengan napasnya yang tidak beraturan. Tubuh Ibu masih berlumuran darah, lengkap dengan pisau, garpu dan pecahan kaca yang menancap di tubuhnya. Sedangkan ayah tak menggubris dan masih sibuk menggali tanah untuk mengubur mayat Ibuku.
​Aku berlari menghentikan Ayah yang berjalan menyeret tubuh ibu dengan kasar "Cukup! Hentikan Yah.. Jangan tarik Ibu, Dea mohon. Lepaskan Ibu!! Lepaskan Ibuuuu...!!!" Aku menjerit histeris, namun rasanya telingaku sendiri tak dapat mendengar suaraku yang melengking. Hingga dentuman kuat di kepala melumpuhkan gerakku.
​Aku mengingat semuanya dengan indah. Aku masih dapat mencium aroma amis legit menyeruak di hidungku dan rasanya yang getir manis masih melekat di lidahku.
​Tak terasa air mataku menetes, tak kukira ibu dan Adinda benar-benar sudah tiada. Saat itu ​aku siuman yang kedua kalinya. Di dalam gudang yang gelap dan pengap tempat penyimpanan alat berkebun. Pintu yang terkunci dari luar bukan halangan untuk menyiapkan pesta kematian mereka. Dan senyumku melebar, aku kembali menemui mereka. Menggantikan peran malaikat maut, dengan membawa sebilah sabit di tangan kiriku dari gudang penyimpanan alat berkebun. Aku berjalan mencari kedua makhluk jalang itu.
​"Hai ayah,"  Sapaku riang, tak ada gurat kesedihan.
Aku berjalan melewat Sumarni yang duduk bersandar sofa memegangi perutnya. Sedangkan ayah sedang asyik menonton film keluarga kesukaannya, tak terlihat bersedih. "Malam bergulir sangat cepat, bukan begitu Yah? Aku tak sabar menanti kapan kita akan bertamasya lagi. Hihihi," Aku terus berjalan mendekati mereka.
"Oh iya, Ibu dan Adinda kemana Yah? Kok cuma ada pembantu ini? Apakah mereka sudah berangkat duluan? Hihihi." Aku cecikikan bahagia melihat ekspresi mereka yang menelan ludah.

Ayah hanya diam mematung di sofanya dan sarafnya mulai menegang, begitupun dengan Sumarni. Tak mau menunggu lama, sabit telah siap dan kutebas kepala ayah dengan sempurna. Darah berhamburan mewarnai pakaian yang ku kenakan.
​"Duh, gimana sih Yah, bajuku jadi kotor nih. Hihihi.." Aku menatap Sumarni yang hendak lari dari kematiannya. "Mau kemana calon ibu tiri. Hihihi." Aku sangat bahagia melihat pembalasanku ini. Kulempar sabit dari tangan kecilku. Walau agak kesulitan, beruntung sabitku mampu menancap di betisnya yang kurus "Jangan bunuh akuuu. Jaaannggaannn...." Sayang sekali sabitku tak mau mengalah. "Ssleebbb..." Kucabik-cabik isi perut beserta janin di dalamnya.

​Semua telah berakhir, kehidupan telah berakhir. Walau begitu Ayah masih sering datang menemuiku di tengah malam. Dengan kebiasaannya mencecik, menyeret-nyeret, dan membenturkan kepala di bawah lamunan hitamku. Terima kasih Ayah kau masih menyayangiku. Aku dan gelap jejakku akan selalu menertawai kehidupan.

TAMAT

karya  : Indri Kusuma N


Share:

Jejak Hitam

Ilustrasi : weheartit.com

"Cukup!! Hentikan Yah.. Jangan tarik Ibu, Dea mohon.. Hiks.. hiks.. Lepaskan Ibu!! Lepaskan Ibuuuu!!!"
                                     ***
​"Hah.. hah.. hah," Napasku memburu, jantungku berdegup kencang. "Sialan, mimpi buruk lagi!!" Aku duduk, dan membenahi ritme napasku.
​Kulirik jam dinding menunjukkan pukul 02.16 WIB. Peluhku mengalir di pelipis dan turun mengenai bibir yang terasa masam. Aku memeluk lututku yang bergetar. Sekilas kuamati sekitar, hanya ada gelap yang melahap suara debar jantung.

Aku merasakan ada yang hadir di balik jendela, tak jauh dari ranjangku yang reot ini. Pandangannya tajam, melayang dan terbang menembus bilik kamarku. Dia datang lalu mencekikku, seperti malam-malam sebelumnya. Aku hanya mampu menggeliat ke kanan dan ke kiri memegang leherku yang tercekat tanpa bisa menyentuh bayangan hitam ini.
​"Sialan! Setan macam kau, tak patut rupamu berkeliaran dimuka bumi!" Umpatku penuh dendam. Duniaku menjadi hitam, sesak aku bernapas dan pandanganku kabur tak tahu ke mana dia membawaku.

​Pukul 08.21 mataku berkedip-kedip menyesuaikan cahaya yang menusuk pupil mata. Ternyata aku masih hidup. Kucoba menggerakkan leherku yang kaku. Kuamati setiap jengkal sudut rumah yang tak nampak adanya perubahan. Aku tahu tempat ini tidak dapat dikatakan sebagai rumah. Lantai kayu yang berdecit, sampah berserakan, sarang laba-laba yang menggantung dan debu yang tebalnya tak lagi mampu diukur. Aku tak pernah keluar dari dalam gubuk setan ini setelah kematian Ibu, Ayah dan adik perempuanku.
                                 ***
​Kami keluarga bahagia pada zamannya. Rumahku jauh dari pemukiman warga. Udara yang segar, aroma bunga yang semerbak. Ibu yang sibuk bekerja membuat kami sering menghabiskan liburan dengan tamasya yang penuh suka cita. Duduk bergurau, tertawa ceria diiringi alunan melodi penyejuk hati. Hingga suatu malam yang mengerikan itu tiba.
​"Kamu bajingan Mas! Hiks.. hiks.. Kamu bermain gila dengan Sumarni hingga dia hamil," Ibuku menangis sejadi-jadinya. "Mana janjimu pada orang tuaku dulu? Manaa Mas!! Manaa..!!" Ibu menarik-narik kerah kemeja yang dikenakan Ayah di hadapanku dan adik perempuanku, Adinda Oxalis, usianya masih 3 tahun. Dengan gemetar tangan mungilnya memeluk erat tubuhku.

​"Kau selalu sibuk dengan urusan bisnismu Rina, kau tak pernah ada untukku dan kedua putrimu," Ayah mendengus kesal. "Apa kau tak pernah sadar akan hal itu? Sekarang aku akan menikahi Sumarni, dengan atau tanpa persetujuanmu." Ibu menampar Ayah di hadapan kami.
Sumarni si pembantu bedebah itu hanya duduk dan tersenyum sinis menatap kami yang sembunyi di bawah meja makan. Ayah merasa harga dirinya diinjak-injak oleh Ibu. Dengan sengaja Ayah mendorong Ibu hingga jatuh membentur lemari piring dan lemari roboh meruntuhi tubuh Ibu. "Prrraannggg...."
Kaca di seluruh tubuh lemari berserakan beserta isi di dalamnya. Aku hanya terpaku melihat apa yang terjadi di hadapanku.
​"Eurinaaa.." Ayah berlari mengangkat lemari yang meruntuhi Ibu. Aku dan Adinda mendekati tubuh Ibu yang menggelepar kesakitan. Kukira tak akan seperti ini, tak akan sesulit ini. Ibu dihujani pisau, garpu dan pecahan kaca lemari yang menancap di sekujur tubuhnya. Aku melihat Ibu menangis, kesedihan yang amat mendalam, air matanya bercampur darah dari bola matanya yang tertusuk pecahan kaca.

 Bau amis memenuhi ruang bawah sadarku dan membuat kepalaku pening hingga aku jatuh tak sadarkan diri.
​Aku benci mengingat semua yang pernah terjadi dalam gubuk setan ini. Aku mengurung diri dari semua  kehidupan yang tiada guna.

Bersambung..

Karya  : Indri Kusuma N

Share:

Mahasiswa Keluhkan Rolling Door dan Lahan Parkir di RKB-I


ALIPINEWS - Setelah peresmian RKB-I pada Kamis (27/12/18), ruang kuliah pertama kali digunakan serentak untuk Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) pada Senin (12/8/19) pekan ini.

Nuri, mahasiswa baru prodi Agribisnis, mengaku nyaman menempati ruang kelas di RKB-I.
“Ada alat yang canggih, ada AC-nya juga. Bikin kita nyaman, rileks di kelas,” kata Nuri.      
                              
Namun, Nuri juga mengeluhkan sekat rolling door dari kayu membuat suara dari kelas lain terdengar dan sedikit mengganggu.

Senada dengan Nuri, Ardi mahasiswa baru prodi Agribisnis mengaku senang karena fasilitas RKB-I yang dia anggap lumayan lengkap.

Keluhan terkait rolling door juga disampaikan oleh Lailatus Safariyah, mahasiswa prodi Agribisnis ’18. Meski demikian, Laila mengaku senang karena fasilitas di RKB-I lebih baik daripada ruang kuliah sebelumnya di RKB-B.
Foto ruang kelas RKB-I
“Fasilitasnya lebih lengkap dan alhamdulilah selama saya mengikuti KBM, proyektornya itu berfungsi dengan baik, AC-nya juga, dan bangkunya enakan yang di RKB-I,” terang Laila.

Laila berharap, selanjutnya, fasilitas parkir bisa diperbaiki dengan penambahan atap dan penataan kendaraan dengan rapi.

“Biar gak kepanasan juga. Terus untuk tempat parkir dosen harus ditata rapi.” pungkasnya.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Dekan II FP Insafitri mengatakan bahwa rolling door dibuat guna mengatasi jumlah kebutuhan kelas untuk KBM dan ruang pertemuan (aula).

“Mengenai sekat atau rolling door yang memisahkan antar kelas adalah inisiatif dari atasan (pihak rektorium) untuk memenuhi kebutuhan ruang pertemuan dengan kuota yang cukup banyak tanpa mengorbankan kebutuhan akan kelas yang amat banyak,” terang Insa.

Insa mengatakan, kebutuhan kelas meningkat karena peminat di Fakultas Pertanian cukup banyak. Salah satu faktor peningkatan tersebut karena banyak prodi di Fakultas Pertanian terakreditasi A.

Melanjutkan, terkait tempat parkir, Insafitri mengaku kurang standart sebagaimana seharusnya disediakan oleh Fakultas. Dia juga mengharapkan peran mahasiswa mengatasi kegersangan di halaman RKB-I.
RKB-I tampak depan

“Mengenai gedung RKB-I yang masih terlihat gersang harapannya mahasiswa ada yang menyumbangkan tanaman untuk menghias atau memanfaatkan lahan belakang gedung untuk di jadikan tempat praktik pengolahan tanaman.” pungkasnya. (Ags/Dvd)








  
Share:

Jajak Pendapat Pelaksanaan MABINWA AT 2019


ALIPI NEWS - Sabtu (10/08), Masa Pembinaan Mahasiswa Agriculture Training (MABINWA AT) 2019 Fakultas Pertanian dibuka pada Kamis ( 8/8) dengan pukulan Gong oleh Dekan FP Slamet Subari.

Saat sambutan, Slamet berharap ada output  baik yang didapat maba hingga lulus nanti.

Tema yang diusung pada MABINWA AT adalah "Revitalisasi Integrasi Mahasiswa FAPERTA sebagai Generasi Bestari yang Berjiwa Militansi “.

Polemik tahunan ikut mewarnai peserta MABINWA AT 2019. Ulfa, maba prodi Agribisnis, mengaku tertekan karena waktu pelaksanaan AT yang dinilai terlalu pagi, bahkan sebelum Salat Shubuh sampai menjelang maghrib.


“ Saya merasa tertekan karena harus berangkat jam 04.30 dan pulang maghrib," terang Ulfa.

Ulfa menerangkan, banyak teman maba memilih tidak Salat Shubuh karena takut telat.

"Belum lagi pulang malam karena harus kerja kelompok untuk penugasan besok ” pungkas Ulfa.

Berbeda dengan Ulfa, Ivan yang juga maba Agribisnis, mengaku mendapat pelajaran menarik saat mengikuti MABINWA AT 2019.

“Saya pribadi biasa memanajemen waktu, berperilaku yang baik dan sopan," kata Ivan.

Ivan mengaku, konsep AT yang keras, gila, dan membuat emosi, membuat dia berani menyuarakan argumen.

Selebaran: Pesan Kritik untuk MABINWA AT 2019

Pada hari kedua MABINWA AT, beredar foto selebaran tanpa nama pengirim berjudul "MABINWA AT 2019 untuk Siapa?" Selebaran tersebut diketahui terletak di bangku sekretariat panitia.

Selebaran tersebut berisi umpatan kepada BEM-FP selaku pelaksana MABINWA AT yang dinilai tidak ada bedanya dengan Masa Orientasi di SMA. Penulis juga menuduh pelaksanaan MABINWA AT 2019 menghabiskan banyak biaya, tetapi outputnya tidak jelas.

Penulis juga menganggap Gubernur BEM-FP dan jajarannya adalah kader karbitan yang tidak mengerti tentang apa itu BEM.

Pada akhir alenia pada selebaran, tertulis kalimat ancaman: Mundur atau kami yang membinasakan.

Faishol Hidayat, Gubernur BEM FP, saat ditanya reporter ALIPI mengaku sudah mengetahui selebaran tersebut. Dia menerima selebaran tersebut sebagai bahan evaluasi.

"Entah darimana datangnya selebaran dengan penuh emosi tersebut yang mengkritik BEM FP dalam Penyelenggaraan OSPEK MABINWA AT 2019," terang Mahasiswa Ilmu Kelautan tersebut.

Dayat memaparkan, bahwa acara BEM FP memiliki orientasi pada Visi dan Misi BEM FP. Selanjutnya, Visi-Misi tersebut mengarah pada tiga kata.

"Solid, bersinergi dan berkarakter," kata Dayat.

"Tahun 2019 ini solid, bersinergi dan berkarakter menjadikan kekeluargaan, militansi dan berani aktif di UKM." pungkasnya (dra/nlk).
  Foto selebaran yang beredar ketika MABINWA AT 2019 berlangsung.


Share:

Buletin MORFOLOGI Edisi Agustus 2019 (Menyingkap Tabir Ospek)


Kebahagiaan masuk   di Perguruan Tinggi Negeri (PTN)  menjadi bayangan  yang  indah.  Satu  kata  yang membuat  calon  mahasiswa  bergidik, malas dan takut  yaitu  “OSPEK”.  Ospekterkesan sangat menyeramkan, ditambah  yang  menjadi  rumor  bahwa ospek  fakultas  pertanian. Memasuki ospek  Fakultas  Pertanian  Universitas Trunojoyo  Madura  (FAPERTA  UTM) seakan  mahasiswa baru  (MABA)  merasa berada  didalam  penjara,  semua  serba diatur  dan  maba selalu  dibentak-bentak dengan alasan  yang  tidak  logis.  Seakan maba  ingin  kencing  di  tempat  bahkan bergerak  sedikit  sudah  gemetaran, seseram da n selucu itukah  ospek pertanian. memang  Faperta UTM dikenal  dengan  mahasiswa  yang  keras, aktif  dan  berani,  artinya  mahasiswa baru diuji mental mulai dari terselenggaranya  rentetan  Ospek.

Berdasarkan  pengalaman  kasus ospek  maba  fakultas  pertanian  2018, terdapat respon buruk.   Beberapa pandangan mahasiswa agroteknologi mengatakan bahwasannya ospek Faperta terlalu keras,waktu solat yang pendek,   bentak-membentak  dengan alasan  tidak  logis  dan  penugasan  yang aneh.  Terdapat  juga  pandangan  yang positif mengat akan  bahwa  dengan adanya  ospek  Faperta  UTM  mental mahasiswa  bisa  terlatih,  mahasiswa  bisa disiplin, bisa  memanage  waktu  dan mahasiswa berani mengemukakan pendapat di depan Umum. Namun ratarata  tanggapan  ospek  Faperta  bagi maba  2018  sangat  mengganggu  mental dan  banyak  mahasiswa  yang  sakit.

Baca Selengkapnya Klik Download
Share:

Himbauan Dekan FP untuk Panitia dan Peserta MABINWA AT 2019

foto : Indri (5/8/19)

ALIPI NEWS – Rabu (07/08), Masa Binaan Mahasiswa - Agriculture Training (MABINWA – AT) 2019, jumlah peserta  mencapai 550. Kegiatan ini dilaksanan hari Senin – Jumat (5 – 9/19), bertempat di Gedung Student Center UTM. 

Jumlah mahasiswa baru ini mengalami penurunan kuota.

Beredar kabar terkait surat terbuka yang diperoleh rektor perihal ospek yang menuai problem antara lain: pelaksanaan ospek yang terlalu pagi dari limit waktu beribadah (salat), pemberian tugas yang tidak masuk akal, tidak boleh melakukan tindak kekerasan, tidak adanya atribut – atribut yang diluar ketentuan dengan dunia akademik dan masa orientasi.

Dapat dibuktikan dengan kurangnya semangat mahasiswa baru dalam mengikuti acara ini, namun, tidak sedikit pula yang bersemangat dalam mengikuti acara ospek ini.

Subari selaku Dekan FP saat ditemui di ruangannya, gedung RKB-I lantai 3. Beliau memberi himbauan untuk kegiatan ini kedepannya, sesuai dengan peraturan yang berlaku.
“Bagi panitia ospek selagi kebijakan tidak dilarang, maka diperbolehkan namun harus mengindahkan batasan – batasan kerangka prosedural yang perlu diperhatikan. Untuk mahasiswa baru jangan banyak mengeluh saat ospek berlangsung, kegiatan ospek merupakan cerminan dari kegiatan akademik lainnya” Tutur Subari.

Menanggapi isu ini Dekan membuat Pakta Integritas yang berfungsi dalam memanajemen jalannya kegiatan ospek yang bersifat rasional dan memenuhi prasyarat dan prosedur yang ada (ikn/mam).

Share:

Bukber Gema Ramadan BEM-FP Sepi Peserta

foto : Indri
ALIPI NEW-Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian (BEM-FP) mengadakan bukber pada Sabtu (18/05/19) di RKB-I lantai 1. Bukber dengan tema “Ceriakan Ramadhan dengan Berbagi dalam Ukhuwah Islamiyah bersama Fakultas Pertanian” sekaligus menutup rentetan acara Gema Ramadhan. Kegiatan ini turut dihadiri oleh Dekanat dan Badan Kelengkapan Fakultas Pertanian (BK-FP).

“Untuk mencari pahala, berbagi, kebersamaan. Dalam kebersamaan menjadikan sebuah naungan yang bersifat keagamaan,” Tutur Ferdiansyah, Ketua pelaksana, saat menjelaskan tujuan acara.
Acara dimulai dengan penyampaian materi oleh Khoirun Nasik, Dosen Fakultas Keislaman, dan penampilan tim hadrah HATATAR. Sebelumnya, BEM-FP telah melaksanakan rentetan acara Gema Ramadhan, diantaranya bagi-bagi takjil pada Jumat (17/05) dan santunan anak yatim pada Sabtu siang (18/05).
Acara tersebut merupakan kali pertama yang diselenggarakan di RKB-I. Ferdiansyah mengatakan bahwa alasan ditempatkan di RKB-I karena semua gedung telah dipakai oleh Badan Kelengkapan se-Universitas, yang sedang memanfaatkan momentum Ramadan. Antusisas mahasiswa FP, melihat jumlah yang hadir, masih kurang maksimal. Hal tersebut diakui Ferdiansyah. Dia mengaku, penitia telah menyebarkan informasi acara tersebut melalui media daring. “Informasi dari awal sudah disebar mulai dari Instagram dan WhatsApp teman-teman.” Tukasnya.
Menambahkan, untuk mengikuti acara tersebut, panitia menetapkan HTM Rp 15 ribu. HTM tersebut digunakan untuk pembelian makanan dengan rincian harga Rp 10 ribu, minum Rp 2 ribu, dan infak santunan anak yatim Rp 3 ribu. “Ya segala informasi sudah disebar, mungkin karena dari diri mahasiswa yang tidak berminat atau punya halangan yang lain,” pungkasnya.


Reporter : Indri
Editor      : Dewinta R.H

Share:

Apakah Sudah Terdidik atau Diam Bergidik?

 
Created by : M. Ali Mashudi

Pendidikan menjadi tolak ukur maju tidaknya sebuah negara. Ketika suatu negara tidak menunjukkan adanya kemajuan yang signifikan dalam perkembangan budaya, ekonomi, demokrasi maupun teknologinya tentu hal ini akan menjadi PR besar bagi sebuah negara untuk mempertanyakan kualitas pedidikaan yang saat ini diterapkan. Pendidikan menjadi hal yang sangat diperlukan masyarakat dalam mengubah pola pikir yang terkesan kuno menjadi  ilmiah. Pendidikan merupakan suatu proses pembelajaran kepada peserta didik agar memiliki pemahaman terhadap sesuatu dan membuatnya menjadi seorang manusia yang kritis dalam berpikir.
Lanjut ke pembahasan utama, memasuki realita kehidupan pendidikan seorang mahasiswa, perlu kita kaji dan pelajari. Apakah pendidikan di negeri ini sudah mencerminkan masyarakatnya dalam berpola pikir ? Contoh saja dalam dunia kampus, hiruk pikuk kegiatan dimulai pukul 07.00 WIB hingga 22.00 WIB. Sepertinya bukan dimulai pukul 07.00 lagi karena kami sebagai mahasiswa pertanian terbiasa melakukan kegiatan pukul 05.30 untuk melakukan berbagai aktivitas tuntutan maha dosen. Belum lagi kuliah pengganti yang biasa dilakukan pada pukul 18.30 s/d 20.40 WIB. Banyak juga yang merelakan waktu tidurnya demi mengerjakan 1001 tugas yang meliputi: laporan, pembuatan makalah, resume jurnal, dan tugas presentasi dari banyak mata kuliah yang disajikan dan tentunya sangat menyiksa. Disaat kegiatan perkuliah berlangsung, banyak mahasiswa yang ditemui mencuri waktu tidur di sela-sela dosen menyampaikan ceramahnya. Saat itulah mahasiswa perlu ditanyakan apakah dia mahasiswa terdidik atau hanya diam bergidik ? Mari selalu kita waspadai hal semacam ini.
Inilah realita perkuliahan yang tak sesuai dengan ekspetasi. Ki Hajar Dewantara tokoh yang disebut sebagai Bapak Pendidikan di Indonesia menyampaikan bahwa pendidikan adalah proses menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak peserta didik, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Kebahagiaan yang mana coba ?. Sebagai makhluk hidup yang sering membaca perjuangan pahlawan melawan penjajah atau merasai diri sedang dijajah, baru kali ini kami rasakan di dunia perkuliahan, dimana waktu istirahat kami terjajah oleh tumpukan tugas. Tekanan ini membuat banyak keluhan bagi kami kaum pelajar dalam penempuh pendidikan.
Sedangkan tujuan pendidikan menurut UU No. 2 Tahun 1985 adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia yang seutuhnya, yaitu bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, memiliki pengetahuan, sehat jasmani dan rohani, memiliki budi pekerti luhur, mandiri, kepribadian yang mantap, dan bertanggungjawab terhadap bangsa.
Meninjau dari undang-undang terlampir, bahwasannya kami memang memiliki pengetahuan yang katanya luas, namun kami tidak sehat secara jasmani maupun rohani. Tugas yang menumpuk membuat kami harus begadang larut malam, telat makan, jarang mandi dan kurang pergaulan. Hal tersebut akan berdampak antara lain; kami menjadi makhluk anti sosial karena kesibukan kami akan laporan, menurunnya konsentrasi saat kuliah, tekanan batin dalam menyikapi tugas yang beranak pinak, frustasi karena laporan tidak accept dan finalnya adalah insomnia.
Hal ini tidak sinkron dengan undang-undang yang ada. Sibuk dengan tugas yang menggunung membuat gerak kami terbatas dalam berkreativitas. Kami juga butuh istirahat bukan tekanan yang terus-menerus mendera. Kepada semua pejabat kampus “Kurangi tugas kuliah kami, agar LDR bisa bersua.”

Oleh  : M. Ali Mashudi & Indri K. N


Share: