Sidebar

Diberdayakan oleh Blogger.

Lemak dan Minyak yang Bikin Jenuh

Jumat, 09 Maret 2018

"Apa bedanya lemak sama minyak, anak-anak?" ucap seseorang dengan nada sedikit keras. Ia jauh diatasku usianya. Namanya Pa Guru. Yah, aku tak salah ketik. Namanya memang Pa Guru. Katanya, saat ia masih dikandungan, ibunya nyidam banget sama pakaian guru SMP dekat rumahnya. Alhasil, ayahnya jadi korban keinginan ibunya. Bayangkan, ayahnya hampir seminggu, kalau dirumah, harus pakai seragam yang mirip sama guru-guru SMP. Dan, penderitaan itu berakhir setelah ayahnya mengucapkan sebuah janji. Kata ayahnya, kalau anak kita lahir, akan kuberi nama Pak Guru.

"Janji ya, Pa?" ucap ibunya dengan genit-genit lucu. Ayah mengangguk mirip perkutut manggung.

Kenyataan terkadang tak sesuai rencana, begitu ucapnya, saat menjelaskan asal-usul namanya.

"Setelah lahir, ayahku melaporkan kelahiranku ke Desa. Maklum, petugasnya udah tua, ayah bilangnya Pak Guru, eh, ditulis Pa Guru."

Gelak tawa menggelegar dari mulut-mulut yang tadi pagi lupa belum gosok gigi. Ya, kami, siswa SMA ingusan, terpingkal-pingkal dengan cerita lucu Pa Guru.

***

"Lemak itu bikin gendut, kalau minyak bikin mateng, Pak Guru." jawab ketus Salim. Ia teman sebangku-ku. Sebenarnya, itu adalah jawaban jujur. Ia sudah praktik. Akibatnya, tubuhnya kebanyakan lemak dan ia suka gorengan. Yah, menurutku hidupnya tak jauh dari lemak dan gorengan. Uh...

"Ada yang lain?" Pa Guru melemparkan pandangannya pada teman-teman dibelakang. Aku melihat mereka, tepatnya beberapa dari mereka, bersembunyi dibalik punggung teman didepannya. Kau tahu, andai mereka kura-kura, mungkin kepalanya akan mereka sembunyikan dibalik tempurung.

"Coba, kamu!" Pa Guru menunjuk Angel. Angel, kulihat, sedikit menata nafasnya. Perempuan ini bisa jadi masuk kategori perempuan tercantik sejagat. Saat senyum, aku selalu gemes melihat pipinya yang gimana gitu. Ditambah cekungan imut di pipinya, Anggel makin terlihat manis. Tambah hidung mancung yang...ah, pokoknya gitu, dah.

"L..le..le..le..lemak itu, s..ss.s..sama dengan mmmmminyak, Pa Gulu."

"Loh, kok sama? Samanya dimana?"

"Ss...sama-sama...bebe...bisa buat goleng klupuk."

Uh...yes, dah, kalau udah dengar ucapannya. Yah, kesempurnaan selalu beriringan dengan kekurangan. Itulah Angel, perempuan yang tak tahu kalau di abjad itu ada huruf "R" dan gagap gempita itu menyebabkanku mengurungkan niat untuk menjadikannya pacar. Bayangkan, namaku Raci Feri, dan ia memanggilku "Laci Feli". Belum juga kalau ia khilaf mengganti huruf "F" jadi "P". 

Jadinya, Laci Peli. Iiih...jolok bingits...

Pa Guru tersenyum. Kemudian menekuni satu-persatu dari kami. Hingga pandangannya jatuh pada Joko. Ia adalah tipe-tipe siswa yang menganggap pertanyaan Pa Guru sebagai bencana alam. Keringatnya mulai mengalir dari keteknya. Hingga basah. Bahkan, jamur tiram pun tumbuh subur di kain bajunya, tepatnya dibagian ketek.

Tik..tok..tik..tok...

Menunggu jawaban Joko.

Loading...

Dan, kulihat, seluruh bajunya basah keringat. Wajahnya pucat, tapi ia tetap konsisten pura-pura mikir. Kau tahu, saat-saat seperti ini, kalau Pa Guru meladeni Joko, kelas kami bisa tiba-tiba bau pesing. Pa Guru kembali tersenyum, "Oke, coba yang lain. Coba kamu!"

Mati! Kiamat! Kali ini aku harus menjawab pertanyaan yang belum pernah kutanyakan pada Ibu. Setahuku, lemak dan minyak adalah bahan utama yang ibu butuhkan untuk memasak. Tapi aku tahu sesuatu. Sebelum menjawab, aku lebih dulu menarik nafas dan mengeluarkan pelan-pelan, "Minyak itu ada berbagai bentuk, Pa Guru. Ada yang padat, contohnya kertas minyak; ada yang jel, contohnya minyak rambut; ada yang cair, contohnya minyak goreng. Kalau lemak, bentuknya padat, contohnya Salim dan kerbau, yang sama-sama jumbo akibat kebanyakan lemak." jawabku, diikuti gelak tawa menggila. Lepas.

Pa Guru belum juga puas. Kini giliran Ani. Ia kami juluki ratu baper. Pasalnya, ucapan apapun yang keluar dari mulutnya, takkan jauh dari kondisi kejiwaannya. Misal, kalau lagi sedih, mulutnya hanya kenal bahasa sedih; kalau lagi senang, mulutnya hanya kenal sama lelucon; dan, kali ini Ani sedang galau.

"Sebenarnya minyak dan lemak itu banyak perbedaannya. Tapi menurut saya, Pa Guru, perbedaan paling terlihat itu terhadap kondisi psikologis. Nah, minyak yang banyak akan menyebabkan muka kita kusut dan make up luntur. Akibatnya, tingkat ke-PD-an kita menurun," Ani menjelaskan, ia mirip ahli mutu, dengan yakin. Ia tak peduli yang dikatakan benar atau salah. Baginya, kalau salah gak dosa, ya gak masalah.

"Nah, kalau lemak, itu berpengaruh pada tingkat kejenuhan. Tingkat saturasi. Makanya, orang yang kebanyakan lemak, dia lebih gampang jenuh sama segala hal." lanjut Ani, sambil memainkan tangannya, mirip saat Pa Guru sedang mengajar: gaya tangan saat presentasi.

Aku tahu maksud Ani adalah salim. Ia memang lagi jenuh dengan Ani. Kau yang pernah pacaran sama teman sekelas pasti tahu rasanya lemak jenuh yang dibicarakan Ani. Yah, salim dan Ani satu-satunya pasangan paling kontroversi dikelas. Bayangkan saja, Ani ratu Baper VS Salim juragan lemak jenuh. Jadi makanan apa coba? Embuh,lah!

Pa Guru mungkin udah bosan bertanya pada siswa-siswa kelas profesional macam Salim, Joko, Ani dan aku. Aku tahu, semua guru seperti itu. Mudah saja ditebak. Kalau-kalau sudah bosan dan patah hati, ujung-ujungnya menanyakan jawaban kepada si miniatur Albert Einsten: Marjuki. Ia adalah yang paling cerdas diantara kami. Saking cerdasnya, nama-nama mahluk gaib hingga struktur sel dan tingkahlakunya, juga rumus-rumus kimia dan fisika, hafal diluar kepala. Ia sangat akrab samaEscerichia Colli dan Salmonella Typi. Kau tahu, akibat akrabnya dengan E. Colli, ia sering mencret di kelas. Dan karena Salmonella Typi, ia juga sering sakit typus. Lebih buruknya, kalau si Salmonella Typi itu datang, ia suka emosi. Tempramen banget pokoknya. Suhu otaknya bisa sampai 40 derajat Celcius.

Yah, balik ke paragraf diatas tadi: setiap kelebihan selalu beriringan dengan kekurangan.

"Marjuki, menurutmu, apa bedanya Lemak dan Minyak?" ucap Pa Guru dengan mata berbinar, berharap mahluk satu ini benar-benar menjadi cahaya diantara gelapnya isi ruang kelas.

"Lemak itu, titik didihnya lebih tinggi dibandingkan minyak. Kedua, lemak pada suhu kamar berbentuk padat, sedangkan minyak berbentuk cair." jawab Marjuki. Meski aku tak tahu maksudnya, aku yakin jawaban itu benar. Bukan karena tak punya alasan, tapi Marjuki memang cocok jika kujuluki kamus hidup.

"Nah, tepat!" Pa Guru mengacungkan jempolnya pada Marjuki. Tapi kami tidak. Kami tiap hari lihat si kamus hidup itu menjawab dengan benar. Dan kami seperti makan lemak jenuh yang ikatan rangkapnya berlipat-lipat. Yah, namanya juga jenuh, jawaban luar biasa pun rasanya biasa.

Pelajaran berlanjut. Pa Guru mulai menerangkan spesifikasi lemak dan minyak hingga akar tunggang dan serabutnya. Kura-kura di jajaran bangku belakang satu-persatu mulai nyenyak. Salim dan Ani tak terlihat saling mengedipkan mata, apa lagi lempar senyuman. Dan, mataku mulai redup. Pa Guru berubah seperti bayangan hitam yang jahat. Aku gak kuat. Aku tidur. Pulas. Didalam kelas.

Dalam mimpi, aku menjawab salam Pa Guru. Ia pamit karena waktu mengajar telah habis. Ia keluar pintu, membawa lemak dan minyak jenuh yang membuatku jenuh. "Ah, selain jenuh, makanan yang mengandung lemak dan minyak suka tengik," ucapku, sambil menikmati kepergian Pa Guru, didalam mimpi.

Bangkalan, 9 Maret 2018

Em Ruddy


Tidak ada komentar:

Posting Komentar